INDAHNYA SABAR

INDAHNYA SABAR

Sabar adalah kemampuan menahan jiwa agar tetap berada di jalan Allah: tetap taat ketika taat terasa berat, meninggalkan maksiat ketika maksiat terasa menarik, tetap berbuat baik ketika diperlakukan buruk, tetap memenuhi amanah ketika jalan terasa panjang, dan tetap berharap kepada Allah ketika ujian belum berakhir. Semua itu bukan supaya dipuji manusia, tetapi “ibtighā’a wajhi rabbihim”—semata-mata mencari rida Allah.

“Sabar bukan berarti kita berhenti berjalan. Sabar adalah tetap berjalan ketika tujuan belum terlihat; tetap berdoa ketika jawaban belum datang; tetap berikhtiar ketika hasil belum tampak; dan tetap percaya bahwa waktu Allah tidak pernah salah.”

Sabar dapat dibagi menjadi tiga

  1. Sabar dalam ketaatan kepada Allah, QS. Taha [20]: 132,
  2. Sabar meninggalkan maksiat
  3. Sabar menghadapi takdir, ujian, dan musibah QS. Al-Baqarah [2]: 155–157 dan Luqman [31]: 17.

A.     EMPAT UNSUR SABAR DALAM BERPROSES

  1. Berusaha, Sabar bukan duduk menunggu. Nabi dan Rasul tetap bekerja, berdakwah, berhijrah, dan berikhtiar.
  2. Tidak tergesa-gesa, Tidak semua yang baik harus diperoleh sekarang. Ada sesuatu yang baik, tetapi belum baik waktunya.
  3. Menerima tahapan, Belajar membutuhkan waktu, karier membutuhkan proses, membangun keluarga membutuhkan proses, bahkan memperbaiki diri membutuhkan proses.
  4. Menyerahkan hasil kepada Allah, Tugas manusia adalah ikhtiar terbaik; hasil adalah wilayah Allah.

B.      SABAR DALAM BERPROSES

Sabar dalam berproses berarti tetap taat, tetap berusaha, dan tidak tergesa-gesa menuntut hasil, meskipun apa yang diinginkan belum tercapai. Sabar bukan berarti pasif. Sabar justru mengandung ikhtiar, doa, tawakal, dan keteguhan hati. Allah berfirman dalam Surat Al-Kahfi ayat 68:

وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلٰى مَا لَمْ تُحِطْ بِهٖ خُبْرًا ۝٦٨

 “Dan bagaimana engkau akan dapat bersabar atas sesuatu yang engkau belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentangnya?”

Ayat ini terdapat dalam kisah Nabi Musa dan Khidir. Nabi Musa belum mengetahui hikmah di balik tindakan Khidir. Pesannya sangat relevan: sering kali kita tidak sabar karena kita belum mengetahui apa yang sedang Allah persiapkan. Kemudian dalam Surat Yusuf ayat 18, Nabi Ya’qub berkata:

فَٱصْبِرْ صَبْرًا جَمِيلًا. 

 “Maka kesabaran yang indah itulah pilihanku.”

C.     SABAR TANPA BATAS

Yang dimaksud “sabar tanpa batas” bukan berarti seseorang harus diam menerima semua keadaan, termasuk kezaliman, kekerasan, atau kemaksiatan. Maksud yang lebih tepat adalah: selama seseorang masih berada dalam ketaatan kepada Allah dan menghadapi ujian hidup, ia tidak menetapkan batas waktu untuk tetap percaya, berikhtiar, dan berharap kepada Allah. Dasarnya antara lain Az-Zumar [39]: 10:

اِنَّمَا يُوَفَّى الصّٰبِرُوْنَ اَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ ۝١٠

Sesungguhnya orang-orang yang bersabar akan“ ”.disempurnakan pahala mereka tanpa batas

Yang “tanpa batas” dalam ayat ini secara langsung adalah balasan Allah kepada orang yang sabar. Tetapi dari sisi sikap, seorang mukmin juga tidak berkata:

“Saya hanya mau sabar satu bulan. Kalau lebih dari itu, saya berhenti taat atau putus asa.”

D.     BUAH DARI KESABARAN

Mengapa seseorang bisa istiqamah salat? Karena sabar.

Mengapa seseorang mampu menjauhi maksiat ketika ada kesempatan? Karena sabar. Mengapa seseorang tetap berinfak ketika hartanya terbatas? Karena sabar.

Mengapa mampu memaafkan ketika disakiti? Karena sabar. Mengapa tetap beriman ketika diuji? Karena sabar. Maka tidak mengherankan jika sesampainya di surga, malaikat tidak mengatakan: “Selamat atas hartamu”, “selamat atas kedudukanmu”, atau “selamat karena kehidupanmu dahulu mudah.”

وَالَّذِيْنَ صَبَرُوا ابْتِغَاۤءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ وَاَقَامُوا الصَّلٰوةَ وَاَنْفَقُوْا مِمَّا رَزَقْنٰهُمْ سِرًّا وَّعَلَانِيَةً وَّيَدْرَءُوْنَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ اُولٰۤىِٕكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِۙ

Dan orang yang sabar karena mengharap keridaan Tuhannya, melaksanakan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta, menolak kejahatan dengan ,kebaikan; orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik)

  • Related Posts

    MENIKMATI SAJIAN TAKDIR

    Oleh : Dewi Suryati, ME Meski terkadang terasa berat dalam benak, ada takdir yang datang tanpa pernah kita pinta, membawa kesulitan yang tak kita mengerti dan menyisakan tanya yang tak…

    Krisis Humaniora dalam Dunia Pendidikan Akibat Reduksi Manusia Jadi Instrumen Ekonomi

    Oleh : Dr. Masruri, M.Pd.I Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Badru Munir Sukoco, mengungkapkan bahwa wacana penutupan sejumlah program studi muncul sebagai upaya mengurangi kesenjangan antara lulusan…

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    You Missed

    MENIKMATI SAJIAN TAKDIR

    MENIKMATI SAJIAN TAKDIR

    Krisis Humaniora dalam Dunia Pendidikan Akibat Reduksi Manusia Jadi Instrumen Ekonomi

    Krisis Humaniora dalam Dunia Pendidikan Akibat Reduksi Manusia Jadi Instrumen Ekonomi

    Buletin: Krisis Kemanusiaan Menurut Al-Qur’an

    Buletin: Krisis Kemanusiaan Menurut Al-Qur’an

    Pesan Imam al-Ghazali:

    Pesan Imam al-Ghazali:

    BAHAYA MARAH

    BAHAYA MARAH

    HUKUM LAKI-LAKI MENGGODA ISTRI ORANG LAIN

    HUKUM LAKI-LAKI MENGGODA ISTRI ORANG LAIN